Minggu, 02 Maret 2014
Gambar perangkat keras (Hardware)
Perangkat keras
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Batasan antara perangkat keras dan perangkat lunak akan sedikit buram kalau kita berbicara mengenai firmware, karena firmware ini adalah perangkat lunak yang "dibuat" ke dalam perangkat keras. Firmware ini merupakan wilayah dari bidang ilmu komputer dan teknik komputer, yang jarang dikenal oleh pengguna umum.
Komputer pada umumnya adalah komputer pribadi, (PC) dalam bentuk desktop atau menara kotak yang terdiri dari bagian berikut:
- Papan sistem/papan induk yang merupakan tempat CPU, memori , slot vga, dan memiliki slot untuk kartu tambahan.
- RAM - tempat penyimpanan data sementara / jangka pendek,sehingga perangkat lunak yang kita jalankan akan tersimpan sementara, sehingga komputer tidak perlu selalu mengakses hard disk untuk mencari data. Jumlah RAM yang lebih besar akan membantu kecepatan PC
- Buses:
- ROM (Read Only Memory) di mana firmware diletakkan
- CPU (Central Processing Unit) sebagai otak dan bagian utama komputer
- Power supply - sebuah kotak yang menyalurkan daya ke papan induk transformer, kontrol voltase dan kipas
- Pengontrol penyimpanan, dari jenis IDE, SCSI atau SATA atau lainnya, yang mengontrol hard disk, Floppy disk, CD-ROM, DVD-ROM dan drive lainnya; kontroler ini terletak di papan induk (atas-papan) atau di kartu tambahan
- Pengontrol penampilan video yang memproduksi output untuk komputer display
- Pengontrol komputer bus (paralel, serial, USB, Firewire) untuk menyambung komputer dengan alat tambahan luar lainnya seperti printer atau scanner
- Beberapa jenis penyimpanan komputer:
- Penyimpanan dalam - menyimpan data dalam komputer untuk penggunaan jangka panjang.
- Hard disk - untuk penyimpanan data jangka panjang
- Disk array controller
- Kartu suara - menerjemahkan signal dari papan sistem ke bahasa yang dapat dimengerti oleh speaker, dan memiliki terminal untuk mencolok kabel suara speaker.
- Jaringan komputer - untuk menghubungkan komputer ke internet dan/atau komputer lainnya.
- Modem - media penyambung ke koneksi internet.
- Kartu network - untuk internet DSL/kabel, dan/atau menghubungkan ke komputer lain.
- Alat lainnya.
Sejarah Internet
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
|
|
Ada usul agar artikel atau bagian ini digabungkan dengan Internet. (Diskusikan) |
Tujuan awal dibangunnya proyek itu adalah untuk keperluan militer. Pada saat itu Departemen Pertahanan Amerika Serikat (US Department of Defense) membuat sistem jaringan komputer yang tersebar dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah vital untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari terjadinya informasi terpusat, yang apabila terjadi perang dapat mudah dihancurkan.
Pada mulanya ARPANET hanya menghubungkan 4 situs saja yaitu Stanford Research Institute, University of California, Santa Barbara, University of Utah, di mana mereka membentuk satu jaringan terpadu pada tahun 1969, dan secara umum ARPANET diperkenalkan pada bulan Oktober 1972. Tidak lama kemudian proyek ini berkembang pesat di seluruh daerah, dan semua universitas di negara tersebut ingin bergabung, sehingga membuat ARPANET kesulitan untuk mengaturnya.
Oleh sebab itu ARPANET dipecah manjadi dua, yaitu "MILNET" untuk keperluan militer dan "ARPANET" baru yang lebih kecil untuk keperluan non-militer seperti, universitas-universitas. Gabungan kedua jaringan akhirnya dikenal dengan nama DARPA Internet, yang kemudian disederhanakan menjadi Internet.
Daftar kejadian penting
| Tahun | Kejadian |
|---|---|
| 1957 | Uni Soviet (sekarang Rusia) meluncurkan wahana luar angkasa, Sputnik. |
| 1958 | Sebagai buntut dari "kekalahan" Amerika Serikat dalam meluncurkan wahana luar angkasa, dibentuklah sebuah badan di dalam Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Advanced Research Projects Agency (ARPA), yang bertujuan agar Amerika Serikat mampu meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi negara tersebut. Salah satu sasarannya adalah teknologi komputer. |
| 1962 | J.C.R. Licklider menulis sebuah tulisan mengenai sebuah visi di mana komputer-komputer dapat saling dihubungkan antara satu dengan lainnya secara global agar setiap komputer tersebut mampu menawarkan akses terhadap program dan juga data. Pada tahun ini juga RAND Corporation memulai riset terhadap ide ini (jaringan komputer terdistribusi), yang ditujukan untuk tujuan militer. |
| Awal 1960-an | Teori mengenai packet-switching dapat diimplementasikan dalam dunia nyata. |
| Pertengahan 1960-an | ARPA mengembangkan ARPANET untuk mempromosikan "Cooperative Networking of Time-sharing Computers", dengan hanya empat buah host komputer yang dapat dihubungkan hingga tahun 1969, yakni Stanford Research Institute, University of California, Los Angeles, University of California, Santa Barbara, dan University of Utah. |
| 1965 | Istilah "Hypertext" dikeluarkan oleh Ted Nelson. |
| 1968 | Jaringan Tymnet dibuat. |
| 1971 | Anggota jaringan ARPANET bertambah menjadi 23 buah node komputer, yang terdiri atas komputer-komputer untuk riset milik pemerintah Amerika Serikat dan universitas. |
| 1972 | Sebuah kelompok kerja yang disebut dengan International Network Working Group (INWG) dibuat untuk meningkatkan teknologi jaringan komputer dan juga membuat standar-standar untuk jaringan komputer, termasuk di antaranya adalah Internet. Pembicara pertama dari organisasi ini adalah Vint Cerf, yang kemudian disebut sebagai "Bapak Internet" |
| 1972-1974 | Beberapa layanan basis data komersial seperti Dialog, SDC Orbit, Lexis, The New York Times DataBank, dan lainnya, mendaftarkan dirinya ke ARPANET melalui jaringan dial-up. |
| 1973 | ARPANET ke luar Amerika Serikat: pada tahun ini, anggota ARPANET bertambah lagi dengan masuknya beberapa universitas di luar Amerika Serikat yakni University College of London dari Inggris dan Royal Radar Establishment di Norwegia. |
| 1974 | Vint Cerf dan Bob Kahn mempublikasikan spesifikasi detail protokol Transmission Control Protocol (TCP) dalam artikel "A Protocol for Packet Network Interconnection". |
| 1974 | Bolt, Beranet & Newman (BBN), pontraktor untuk ARPANET, membuka sebuah versi komersial dari ARPANET yang mereka sebut sebagai Telenet, yang merupakan layanan paket data publik pertama. |
| 1977 | Sudah ada 111 buah komputer yang telah terhubung ke ARPANET. |
| 1978 | Protokol TCP dipecah menjadi dua bagian, yakni Transmission Control Protocol dan Internet Protocol (TCP/IP) |
| 1979 | Grup diskusi Usenet pertama dibuat oleh Tom Truscott, Jim Ellis dan Steve Bellovin, alumni dari Duke University dan University of North Carolina Amerika Serikat. Setelah itu, penggunaan Usenet pun meningkat secara drastis. Pada tahun ini pula, emoticon diusulkan oleh Kevin McKenzie. |
| Awal 1980-an | Komputer pribadi (PC) mewabah, dan menjadi bagian dari banyak hidup manusia. Tahun ini tercatat ARPANET telah memiliki anggota hingga 213 host yang terhubung. Layanan BITNET (Because It's Time Network) dimulai, dengan menyediakan layanan e-mail, mailing list, dan juga File Transfer Protocol (FTP). CSNET (Computer Science Network) pun dibangun pada tahun ini oleh para ilmuwan dan pakar pada bidang ilmu komputer dari Purdue University, University of Washington, RAND Corporation, dan BBN, dengan dukungan dari National Science Foundation (NSF). Jaringan ini menyediakan layanan e-mail dan beberapa layanan lainnya kepada para ilmuwan tersebut tanpa harus mengakses ARPANET. |
| 1982 | Istilah "Internet" pertama kali digunakan, dan TCP/IP diadopsi sebagai protokol universal untuk jaringan tersebut. Name server mulai dikembangkan, sehingga mengizinkan para pengguna agar dapat terhubung kepada sebuah host tanpa harus mengetahui jalur pasti menuju host tersebut. Tahun ini tercatat ada lebih dari 1000 buah host yang tergabung ke Internet. |
| 1986 | Diperkenalkan sistem nama domain, yang sekarang dikenal dengan DNS (Domain Name System) yang berfungsi untuk menyeragamkan sistem pemberian nama alamat di jaringan komputer. |
Minggu, 02 Februari 2014
dongeng sunda
SAKADANG KUYA JEUNG SAKADANG MONYET NGALA CAU
SAWATARA bulan ti harita, pelak cau Sakadang Kuya téh geus baruahan, malah geus arasak. Mimiti kanyahoanana ku Sakadang Monyét. Atuh Sakadang Monyét téh hariweusweus nyaritakeun tangkal cau téa ka Sakadang Kuya.“Ieuh, geuning tangkal cau téh geus buahan. Buahna ogé geus karonéng deuih,” ceuk Sakadang Monyét
“Piraku Sakadang Monyét?”
“Sumpah. Pan bieu uing ngaliwat ka dinya. Kudu buru-buru diala, bisi kaburu ku cocodot!”
“Heug, isukan mah urang ala.”
“Keun uing anu ngalana mah, urang taékan. Sakadang Kuya mah cicing wé di handap, da teu bisa naék. Ngan uing ménta nya, apan uing anu ngalana, jeung uing deuih anu pangheulana nganyahoankeun geus asakna ogé! Kuduna mah dibagi dua.”
Sakadang Kuya ukur nyenghél ngadéngé omongan Sakadang Monyét kitu téh. Teu némbal.
Peutingna, soré kénéh Sakadang Monyét geus saré. Jigana mah capéeun, lantaran beurangna geus liar jauh. Ari Sakadang Kuya mah masih kénéh nyileuk. Keur kitu kadéngé Sakadang Monyét ngalindur, “Isukan uing rék ngala cau. Cauna rék dibawa kabur, Sakadang Kuya mah moal dibéré. Bongan tuda, basa éta gé nangka dibéakkeun ku sorangan.” Tayohna mah Sakadang Monyét téh neuteuli soal nangka téa, nepi ka kababawa ngalindur.
Ngadéngé kitu, Sakadang Kuya ngahuleng. Mikiran kumaha carana sangkan isukan cauna henteu dibawa kabur ku Sakadang Monyét. Manéhna manggih akal. Belenyéh seuri sorangan. Manéhna nyokot koja. Tuluy éta koja téh dibolongan handapna. Anu bolongna téh dianyamkeun deui, tapi anyamanana padu némpél, nepi ka teu katingali geus dibolongan. Geus kitu mah, dug baé Sakadang Kuya saré.
Isukna, kira-kira wanci haneut moyan, Sakadang Monyét ngajak ngala cau téa ka Sakadang Kuya.
“Sakadang Kuya, hayu urang ngala cau téa!”
“Hayu. Tah, bawa atuh kojana ku Sakadang Monyét, keur wadahna. Pan anjeun anu rék ngalana ogé, uing mah teu bisa naékna.”
“Heueuh, ka dieu urang bawa ku uing,” ceuk Sakadang Monyét. Koja téh disalindangkeun.
Duanana leumpang antaré naker. Sakadang Monyét mah katénjona téh bungah pisan. Paromanna marahmay, malah maké jeung hahariringan sagala. Boga rasa, manéhna bakal meunang milik anu kacida lobana. Sakadang Kuya mah moal dibéré.
Barang tepi ka nu dijugjug, enya baé cau téh geus arasak. Komo seuhangna mah, geus karonéng. Anu katénjo héjo kénéh téh, butitina wé.
Teu ngadagoan dititah heula, kalacat wé Sakadang Monyét naék kana tangkal cau. Tuluy baé metikan cau anu geus arasakna. Sanggeus dipetik, terus diadupkeun kana koja. Atuh puguh wé cau téh murag, lantaran handapna geus dibolongan téa ku Sakadang Kuya. Cau anu murag téh disanggap ku Sakadang Kuya. Sanggeus dibuka cangkangna, belewek baé didahar.
Sakadang Monyét mah tonggoy baé metikan cau. Petik, sup kana koja, pluk murag. Kitu jeung kitu baé. Sakadang Monyét teu nyahoeun, da teu rurat-rérét ka handap. Bakating ku hayang buru-buru anggeus ngala cauna.
Bari ngaweswes ngadaharan cau, Sakadang Kuya api-api ngurihit ménta cau ka Sakadang Monyét.
“Jang, cik atuh ménta cau téh. Hijiii wé. Uing mah meni hayang ngasaan!”
Sakadang Monyét teu némbalan. Malah teu ngalieuk-lieuk acan.
“Emh, Sakadang Monyét mah teu inget wé ka uing téh!”
Sakadang Monyét hare-haré.
Barang cau anu arasakna geus béak, Sakadang Monyét tuturubun turun tina tangkal cau. Maksudna rék mawa kabur cau arasak, anu pangrasana mah aya dina kojana. Deregdeg baé lumpat, térékél naék kana tangkal anu jangkung. Clé diuk dina dahanna anu luhur. Leungeunna ngodok koja rék nyokot cau. Cauna euweuh. Barang eusina diilikan, Sakadang Monyét ngajéréwét kagét, lantaran kojana kosong. Beuki kagét barang ningali koja téh handapna bolong.
Rét ka handap, katingali Sakadang Kuya keur nyarandé kana tangkal cau bari nyekelan beuteung. Kamerekaan lantaran loba teuing ngadahar cau. Di sabudeureunana cangkang cau meni ngabayak.
Sakadang Monyét buru-buru turun tina tangkal, tuluy nyampeurkeun Sakadang Kuya.
“Sakadang Kuya, ménta cauna atuh!”
“Tah, aya hiji deui!” ceuk Sakadang Kuya bari nuduhkeun kana cau anu ngagolér.
“Maenya ngan hiji!” ceuk Sakadang Monyét nyereng.
“Ih, apan anu naékna gé Sakadang Monyét, uing mah ngan mulungan anu maruragna wungkul,” témbal Sakadang Kuya, bari angger ngusapan beuteungna anu mutiktrik.
Cau téh dicokot, tuluy didahar ku Sakadang Monyét. Puguh baé ngeunah, cau raja ceré, asak dina tangkal deuih.
Sakadang Monyét kacida keuheuleunana ka Sakadang Kuya.
“Sakadang Kuya mah kawas lain jeung sobat baé!” pokna bari terus indit.
Sakadang Monyét pundung deui. Indit ka jero leuweung, ninggalkeun Sakadang Kuya.
Sakadang kuya jeung monyet
Isuk-isuk sakadang kuya moyan di sisi leuwi. Keur kitu torojol sobatna nya éta Sakadang Monyét.
“Sakadang Kuya!” Sakadang Monyét
ngageroan.
“Kuk!” Témbal Sakadang Kuya.
“Sakadang Kuya!”
“Kuk!”
Sakadang Monyét nyampeurkeun ka
Sakadang Kuya.
“Keur naon Sakadang Kuya?”
“Ah keur kieu wé, keur moyan.”
“Ti batan cicing kitu mah mending
ngala cabé, yu!”
“Di mana?”
“Di kebon Patani, mangka cabéna
geus bareureum.”
“Embung, ah. Sakadang monyét mah
sok gandéng.”
“Moal, moal gandéng ayeuna mah.”
“Nyaan moal gandéng?”
“Moal, nyaan moal gandéng.”
“Hayu atuh ari moal gandéng mah.”
Bring atuh Sakadang Monyét jeung
Sakadang Kuya téh indit ka kebon patani. Barang tepi ka kebon, katémbong cabé
pelak patani geus arasak mani bareureum euceuy. Sup duanana ka kebon. Sakadang
Kuya moncor kana pager, ari Sakadang Monyét ngaluncatan pager. Terus baé
ngaralaan cabé, didalahar di dinya kénéh.
Sakadang Kuya mani seuhah-seuhah
baé ladaeun. Kitu deui sakadang monyét. Keur kitu, ana gorowok téh Sakadang
Monyét ngagorowok.
“Seuhah lata-lata!” Maksudna mah
“seuhah lada-lada”.
“Ssst, Sakadang Monyét, ulah
gandéng atuh!”
Sakadang Monyét henteu ngawaro.
“Seuhah lata-lata!”
“Sakadang Monyét! Bisi kadéngéeun
ku Bapa Tani.”
Tapi Sakadang Monyét api-api teu
ngadéngé. Gorowok deui baé.
“Seuhah lata-lata!”
Kahariwang Sakadang Kuya
kabuktian. Sora Sakadang Monyét anu tarik kadéngéeun ku Bapa Tani ti imahna,
anu teu jauh ti kebonna. Bapa Tani gura-giru lumpat ka kebon. Barang nepi ka
kebon, katémbong aya monyét jeung kuya keur ngaweswes bari seuhah ngadaharan
cabé.
“Beunang siah nu sok malingan cabé
téh!” Bapa Tani ngagorowok bari lumpat muru ka nu keur ngahakanan cabé.
Ngadéngé aya nu ngagebah, gajleng
baé Sakadang Monyét ngejat, térékél kana tangkal kai.
“Sakadang Monyét, dagoan!”
Sakadang Kuya ngagorowok ménta tulung. Tapi Sakadang Monyét teu maliré, teu
ngalieuk-ngalieuk acan, terus lumpat gagalacangan dina tangkal kai. Ari
Sakadang Kuya, puguh da teu bisa lumpat, leumpang ngadédod baé. Kerewek baé
ditéwak ku Bapa Tani.
“Beunang ayeuna mah nu sok
malingan cabé aing téh. Ku aing dipeuncit!” Ceuk Bapa Tani.
Kuya dibawa ka imahna, tuluy
dikurungan ku kurung hayam. Angkanan Pa Tani, isukan kuya rék dipeuncit.
Peutingna, sakadang Monyét
rerencepan ngadeukeutan Sakadang Kuya, nu keur cendekul dina jero kurung.
“Ssst, Sakadang Kuya, keur naon?”
Sakadang Monyét nanya.
“Éh, geuning Sakadang Monyét,
Puguh kuring téh keur ngararasakeun kabungah.”
“Kabungah
naon Sakadang Kuya?”
“Nya
éta, kuring téh rék dikawinkeun ka anak Bapa Tani.”
“Dikawinkeun
ka anak Bapa Tani?”
“Enya.”
”Nu
bener Sakadang Kuya?”
“Piraku
atuh kuring ngabohong ka sobat.”
“Ngadéngé omongan Sakadang Kuya
kitu, Sakadang Monyét ngahuleng sajongjongan.
“Kieu, Sakadang Kuya, kumaha lamun
urang tukeur tempat?” ceuk Sakadang Monyét.
“Tukeur tempat kumaha?”
“Enya tukeur tempat. Sakadang kuya
kaluar, kajeun kuring atuh cicing di jero kurung.”
“Ah,
embung.”
“Kuring
mah karunya wé ka Sakadang Kuya, sapeupeuting dikurungan.”
“Atuh
meureun moal jadi dikawinkeun ka anak Bapa Tani téh.”
Sakadang
monyet keukeuh maksa, supaya tukeur tempat. Antukna sakadang kuya téh éléh
déét.
“Heug
baé tukeur tempat, tapi aya saratna,” ceuk Sakadang Kuya.
“Naon
saratna?”
“Saratna
mah gampang. Saméméh anjeun asup kana kurung, kuring kudu di alungkeun heula ka
leuwi.”
“Enya,
énténg atuh kitu mah.”
Heunteu talangké, Sakadang Monyét
ngaluarkeun Sakadang Kuya tina kurung hayam, tuluy dibawa kasisi leuwi. Lung
baé Sakadang Kuya téh dialungkeun ka leuwi. Sakadang Monyét buru-buru balik
deui ka imah Bapa Tani. Sup baé ngurungan manéh ku kurung hayam. Ngadedempés
ngadago-dago beurang, hayang geura buru-buru dikawinkeun ka anak Bapa Tani.
Kocapkeun
isukna.
“Manéhna,
ka mana bedog téh? Urang asah,” ceuk Bapa Tani ka pamajikanana.
“Rék
naon Bapana isuk-isuk geus ngasah bedog?”
“Itu
urang meuncit kuya di pipir.”
Paguneman Bapa Tani jeung
pamajikanana téh kadéngéeun ku Sakadang Monyét. Manéhna ngagebeg. Lakadalah,
geuning aing téh rék dipeuncit, lain rék dikawinkeun jeung anak Bapa Tani. Rék
kabur, geus kagok. Kaburu aya anak Bapa Tani nyampeurkeun. Gancang baé atuh
Sakadang Monyét téh papaéhan, ngabugigag kawas bangké.
Barang
srog ka dinya, anak Bapa Tani gegeroan ka bapana.
“Bapa!
Bapa!”
“Aya
naon, Nyai?”
“Ieu
geuning nu dina kurung téh lain kuya.”
“Naon
Nyai?”
“Monyét,
jeung siga nu geus paéh deuih!”
Bapa
Tani nu keur ngasah bedog cengkat, tuluy nyampeurkeun ka anakna. Enya baé
geuning dina kurung téh aya monyét ngabugigag, lain kuya nu kamari. Kurung
dibukakeun, monyét dialak-ilik.
“Naha
bet jadi monyét? Jeung paéh deuih.”
“Enya,
éta mani geus jeger kitu,” ceuk pamajikanana mairan.
Monyét
téh dicokot ku Bapa Tani, lung baé dialungkeun jauh pisan. Barang gubrag kana
taneuh, koréjat monyét téh hudang, berebet lumpat, kalacat baé naék kana
tangkal kai.
Dina
hiji poe Sakadang Kuya keur neangan kadaharan, tapi ti isuk mula tacan manggih
nanaon. Ngahaeut ka tengah poe, manehna manggih tangkal cau nu buahna geus
asak, tapi kumaha da teu bisa naek. Kulantaran kitu, tuluy manehna bebeja ka
Sakadang Monyet, menta tulung. Omongna “Sakadang Monyet, uing manggih tangkal
cau nu buahna geus asak, tapi hanjakal teu bisa naek, cing tulungan
pangalakeun, engke paparon”
“Hade,”
tembal Sakadang Monyet. “Di mana?”
Tuluy
maranehna arindit babarengan ka tempat tangkal cau tea. Sakadang Monyet, tuluy
naek, metikan cau hiji-hiji bari ditungtut dihakanan. Sakadang Kuya mah teu
dibere sapotong-potong acan, atuh bati cumeplak we neureuyan ciduh.
“Sakadang
Monyet, mana bagian uing? Kapan geus jangji paparon” ceuk Sakadang Kuya
ngagorowok.
Tapi
Sakadang Monyet teu malire, jongjon bae metikan jeung ngadaharan, kalahkah
maledogan ku cangkangna.
Sakadang
Kuya pohara nyerieunana, ngunek-ngunek hayang males.
Dina
hiji poe Sakadang Kuya indit ka kebon Juru tani, ngala cabe nu geus arasak,
warnana bareureum. Ngala genep nu galede, ketembongna bangun aramis pisan.
Manehna indit nepungan Sakadang Monyet. Biwirna dipulas ku pucuk daun jati
supaya beureum, tuluy cupak capek, cuplak ceplak, cara nu geus barang dahar
geunah.
Ditanya
ku Sakadang Monyet, “Sakadang Kuya, maneh teh keur ngahadar naon? Cik uing
menta!”
Tembal Sakadang Kuya, “ah, ulah ngaganggu, uing teh keur ngeunah ngadahar buah loa paparin ti Dewata. Kakara uing mah barang dahar ni’mat kieu.”
Tembal Sakadang Kuya, “ah, ulah ngaganggu, uing teh keur ngeunah ngadahar buah loa paparin ti Dewata. Kakara uing mah barang dahar ni’mat kieu.”
“Cing
ngasaan saeutik, uing lapar pisan.“ Sakadang Monyet lumah lameh menta ngarah
dipikarunya.
“Keur
naon make mere ka maneh, kapan bareto ge maneh teu mere cau ka kami, padahal
eta teh milik kami?”
“Hampura
bae atuh nu enggeus-enggeus mah!, sing karunya ka uing ku hayang ngasaan buah
loa paparin Dewata!” omongna deui lengas lengis.
“Nya
ari maksa-maksa teuing mah top bae,tuh cokot deukeut tangkal caringin itu!”
tapi ulah dibeakeun kabeh, sesakeun keur kami saparona.”
Sakadang
Monyet pihara atoheunna, gancang lumpat rek nyokot buah loa paparin Dewata tea.
Lantaran tabeatna hawek jeung sarakah manehna embung nyesakeun. Kabeh dibawa
lumpat, di tengah jalan raus raus bae didahar, nepi ka beak. Ari beak…. Adug
lajer, jejeritan awahing ku lada jeung panas.
Sakadang
Kuya kacida sugemanana, lantaran geus bisa males kanyeri hatena bareto
Langganan:
Komentar (Atom)